"It's funny how time flies so fast."
Funny, bagaimana satu bulan berlalu dengan sangat cepat. Atau hanya imajinasi saya saja? Setelah libur panjang, akhirnya kita diharuskan untuk kembali ke rutinitas.
18 Juli kali ini, siswa-siswi sekolah harus berkutat dengan buku (lagi). Namun berbeda dengan mereka yang baru naik satu tingkat ke sekolah yang lebih tinggi. Mereka harus menghadapi MPLS dulu.
Ini sekilas foto dari suasana MPLS di sekolah saya.
| CC: https://www.instagram.com/smansapati |
"Apa sih MPLS?"
MPLS adalah singkatan dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Berbeda dengan MOPDB/MOS, MPLS ini lebih 'mudah' bagi siswa baru. Bukan seperti kita yang dulu harus memakai atribut yang nyeleneh, dibentak oleh senior jika melakukan kesalahan, dan hal-hal lainnya. Siswa sekarang hanya perlu co-card sebagai tanda pengenal, dan duduk diam memperhatikan penjelasan para guru. Yep, para guru.
"Bukan senior?"
Bukan. Sama sekali bukan. PERMENDIKBUD No. 18 Tahun 2016 mengubah budaya yang dari dulu sudah hadir di Indonesia. Selengkapnya bisa dibaca di sini.
Orang-orang ramai mengutarakan pendapatnya tentang perubahan ini. Banyak dari mereka memberikan respon positif, namun tidak sedikit pula yang menentang perubahan ini.
Dengan adanya hal ini, saya mewawancarai beberapa teman sekolah tentang hal ini. Berikut rinciannya:
- “Nggak enak Mel, sama-sama berkesan sih tapi kesannya itu berbeda dengan MOS tahun lalu, kalau tahun ini berkesannya itu kayak bisa menciptakan karya lah kalau tahun kemarin itu gara-gara ada DPT DPT-an gitu. Tapi kalau menurutku kok lebih berkesan tahun kemarin, kan kalau tahun kemarin itu kayak bisa nglatih mental.” –Siswi kelas 11 IPS 1, 15 tahun.
- “Kalau aku sendiri sih gak setuju Mel, soalnya kan bikin gak mandiri adkel-adkel, terus you know lah orang Indonesia itu kalau misal digituin pasti njaluk rempelo tambah seenaknya dengan siapapun di sekolahan, terus kan semua dipegang guru (untuk beberapa sekolah termasuk kita) nah itu bukannya malah meyulitkan guru? Kan yang di sekolah gak cuma guru tapi ada siswa lainnya, tapi ya ada sisi baiknyalah, gak ada pembodohan pakai atribut” –Siswi kelas sebelah, 16 tahun.
- “Umm.. Tbh, in my opinion as a student, I agree with this MPLS. Kenapa? Karena biarkanlah adik-adik kelas itu mengenal lingkungan in a proper way. Jadi tahu banyak hal, peraturan, kedisiplinan, hingga organisasi dan ekskul. No need to melakukan perploncoan yang diatasnamakan pendidikan karakter. Pembentukan karakter itu perlu waktu yang panjang. Gak mungkin hanya dalam 3 hari. Yang ada adik kelas itu hanya segan sesaat dan malah end up menertawakan para kakak-kakak DPT di belakangnya. Tentara, polisi, dan satuan militer lainnya saja butuh waktu lama itu punya karakter yang disiplin dsb. Kalau misal kakak-kakak DPT memang sebegitu hebatnya untuk mengubah karakter dalam waktu 3 hari, maka alangkah baiknya para tentara dan polisi itu untuk diajar oleh kakak-kakak DPT. :--)But, as a senior, gak setuju lah. HAHAHAHA.” –Siswi kelas 11 IPA 7, 16 tahun.
- “Menurutku sih bagus, karena seharusnya pendidikan mental dan karakter itu diberikan oleh orang tua di rumah. Ya kan kita sekolahnya di sekolah umum, bukan sekolah militer bro! Jadi ya seperti murid yang dicubit terus dibawa ke meja hijau itu sepenuhnya salah orang tua. Orang tuanya yang terbelakang mental dan pikirannya, gak habis pikir sama orang tua anak tsb. Kasian si anak.” –Siswa kelas sebelah, 11 IPS 2, umurnya berapa ya?
- “Kalau menurutku ada kekurangannya ada kelebihannya, kalau kekurangannya itu gak melatih mentalnya adik kelas, lah pas jamannya kita kan kakak-kakak kelas yang nge-MOS jadinya itu adek kelas lebih ngajeni kakak kelas soalnya kan ada DPT-DPT-an hehe. Kalau kelebihannya itu ya jadi adek-adek kelas lebih cepet beradaptasi sama lingkungan sekolah, soalnya kan langsung dikenalkan selama 3 hari itu. Gitu Mel hehe. Maaf ambigu.” –Siswi yang sekelas sama saya, 11 IPS 3, 16 tahun.
Itu kata mereka. Ada yang setuju? Atau mungkin sama sekali tidak sependapat? Boleh sekali lho, Anda meninggalkan komen tentang pendapat Anda. Kalau saya sih ada di tengah-tengah antara setuju dan tidak. Hehe.
Ohya ada satu teman saya yang bikin kalimat ini setelah membicarakan adik-adik kelas, hehe.
"Percuma sekolah tinggi kalau lewat tidak permisi"
–Aqib Daffa
So, last word. Adios, amigos! Bye-bye!
0 komentar:
Posting Komentar