Minggu, 24 Juli 2016

Jika Aku Menjadi

Bukan, ini bukan mau bahas acara disalah satu stasiun TV. Lanjutin aja bacanya.

Jadi, hari terakhir di #7haribercerita ini kita dapat tema: Jika Aku Menteri Pendidikan.



Sering kali saya mendengar teman saya berbicara, membayangkan kalau dirinya adalah seorang menteri pendidikan. Mau mengubah pendidikan agar tidak terlalu susah, katanya. Saya yang mendengar hanya mampu tertawa. Bukan menertawakan mimpinya, tapi menertawakan idenya. Mereka sering membayangkan dirinya sebagai seorang menteri hanya saat sedang stress berat dengan pelajaran.

Saya pun, tidak pernah berpikir untuk menjadikan menteri pendidikan sebagai cita-cita saya kelak. Tapi apa salahnya bermimpi ya?

Berbicara seputar menteri pendidikan, pasti tidak jauh-jauh dari kebijakannya ya? Karena hari ini saya baru membayangkan kalau saja saya seorang menteri pendidikan, saya juga mau menbuat beberapa kebijakan saya.

Cukup sederhana, tidak perlu yang 'wah'. Yang pertama, saya hanya mau pendidikan ini tersedia di seluruh Indonesia. Sampai ke daerah yang tersembunyi pun harus mendapatkan pendidikan. Kalau hanya daerah perkotaan saja yang sudah maju pendidikannya, apa gunanya pendidikan di suatu negara itu?

Pendidikan itu perlu didapatkan, dari manapun itu sumbernya. Asalkan baik dan bermanfaat.

Kedua, saya ingin siswa sekolah mendapatkan pelajaran sesuai dengan apa yang ia cita-citakan, apa yang ia inginkan, bukan orang tua ataupun guru yang menginginkan. Banyak bukan kasus seperti ini? Orang tua memaksakan anaknya untuk mengikuti perintahnya. Alasannya pun bermacam.

Pelajaran wajib hanya toleransi, kejujuran, dan olahraga. Kenapa? Karena kita perlu semuanya. Sekarang ini rasanya susah sekali menemukan orang Indonesia yang mempunyai toleransi juga kejujuran tinggi. Kalau masalah olahraga, saya mewajibkan ini hanya untuk menjaga kesehatan kita semua. Tidak perlu olahraga yang berat. Cukup olahraga ringan saja, hanya untuk menjaga kesehatan. Tidak semua orang mau untuk repot-repot berolahraga bukan? Sekolah akan membantu. Dengan cara menyenangkan tentunya.

Ketiga, UN bukan lagi menjadi penentuan kelulusan seorang siswa. Kelulusan akan ditentukan dengan bagaimana mereka saat belajar di sekolah. Bagaimana sikap mereka. Mungkin, saya akan meniadakan UN. Sebagai gantinya, siswa akan membuat satu karya, apapun, dari hasil mereka belajar.

Sudah. Itu saja. Mungkin nanti, jika saya benar-benar menjadi menteri pendidikan akan ada kebijakan yang lain. Untuk kali ini, cukup sampai di sini saja.

Terima kasih telah membaca. Dan dengan ini, masa-masa 7 hari bercerita saya juga peserta lainnya telah usai. Sampai jumpa!

Adios, amigos! Bye-bye!

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

You know me. If you don't, you will.

Pages

recent posts