Jumat, 11 November 2016

Rindu



Teruntuk, kamu yang merasa.




Hai?
Hallo?
Atau bagaimana?
Aku sudah lupa cara membuka percakapan



Tak bertemu
Tak bertegur sapa
Tak saling memandang
Atau, tak melempar senyum satu sama lain
Dengamu, lagi
Rasanya sudah seperti bertahun-tahun
Padahal hanya beberapa minggu saja, ya?



Kalau boleh jujur
Aku rindu
Teramat sangat, ku pikir?
Atau mungkin, rinduku sudah tidak bisa digambarkan lagi?



Maaf
Aku terlalu rindu kamu
Aku tidak tahu
Bagaimana cara menahan rindu ini



Melihatmu
Ingin sekali rasanya untuk memanggilmu
Hanya sekedar untuk berbasa-basi
Aku rindu suaramu, kamu tahu?



Ah tidak
Tidak mungkin kamu tahu
Mana mungkin kamu berpikir tentangku
Hal itu adalah salah satu hal ter-tidak mungkin,
Di dunia ini



Sudahlah
Harapan tak berputusku akhirnya menyerah juga kepadamu
Harapanku sudah lelah menunggu
Asal kamu tahu
Kamu, yang membuatnya lelah
Kamu, yang membuatnya menyerah
Padahal inginku
Terus berharap padamu



Sudah ya?
Kamu sudah tahu kalau aku rindu padamu



Maaf, lagi
Aku sedikit emosional di sini
Jangan dibaca
Kalau nantinya kamu menjadi tidak enak sendiri
Tidak apa-apa
Aku selalu baik-baik saja



Sampai jumpa
Kamu.











Dariku, yang dulu selalu mengharapkanmu.

Minggu, 24 Juli 2016

Jika Aku Menjadi

Bukan, ini bukan mau bahas acara disalah satu stasiun TV. Lanjutin aja bacanya.

Jadi, hari terakhir di #7haribercerita ini kita dapat tema: Jika Aku Menteri Pendidikan.



Sering kali saya mendengar teman saya berbicara, membayangkan kalau dirinya adalah seorang menteri pendidikan. Mau mengubah pendidikan agar tidak terlalu susah, katanya. Saya yang mendengar hanya mampu tertawa. Bukan menertawakan mimpinya, tapi menertawakan idenya. Mereka sering membayangkan dirinya sebagai seorang menteri hanya saat sedang stress berat dengan pelajaran.

Saya pun, tidak pernah berpikir untuk menjadikan menteri pendidikan sebagai cita-cita saya kelak. Tapi apa salahnya bermimpi ya?

Berbicara seputar menteri pendidikan, pasti tidak jauh-jauh dari kebijakannya ya? Karena hari ini saya baru membayangkan kalau saja saya seorang menteri pendidikan, saya juga mau menbuat beberapa kebijakan saya.

Cukup sederhana, tidak perlu yang 'wah'. Yang pertama, saya hanya mau pendidikan ini tersedia di seluruh Indonesia. Sampai ke daerah yang tersembunyi pun harus mendapatkan pendidikan. Kalau hanya daerah perkotaan saja yang sudah maju pendidikannya, apa gunanya pendidikan di suatu negara itu?

Pendidikan itu perlu didapatkan, dari manapun itu sumbernya. Asalkan baik dan bermanfaat.

Kedua, saya ingin siswa sekolah mendapatkan pelajaran sesuai dengan apa yang ia cita-citakan, apa yang ia inginkan, bukan orang tua ataupun guru yang menginginkan. Banyak bukan kasus seperti ini? Orang tua memaksakan anaknya untuk mengikuti perintahnya. Alasannya pun bermacam.

Pelajaran wajib hanya toleransi, kejujuran, dan olahraga. Kenapa? Karena kita perlu semuanya. Sekarang ini rasanya susah sekali menemukan orang Indonesia yang mempunyai toleransi juga kejujuran tinggi. Kalau masalah olahraga, saya mewajibkan ini hanya untuk menjaga kesehatan kita semua. Tidak perlu olahraga yang berat. Cukup olahraga ringan saja, hanya untuk menjaga kesehatan. Tidak semua orang mau untuk repot-repot berolahraga bukan? Sekolah akan membantu. Dengan cara menyenangkan tentunya.

Ketiga, UN bukan lagi menjadi penentuan kelulusan seorang siswa. Kelulusan akan ditentukan dengan bagaimana mereka saat belajar di sekolah. Bagaimana sikap mereka. Mungkin, saya akan meniadakan UN. Sebagai gantinya, siswa akan membuat satu karya, apapun, dari hasil mereka belajar.

Sudah. Itu saja. Mungkin nanti, jika saya benar-benar menjadi menteri pendidikan akan ada kebijakan yang lain. Untuk kali ini, cukup sampai di sini saja.

Terima kasih telah membaca. Dan dengan ini, masa-masa 7 hari bercerita saya juga peserta lainnya telah usai. Sampai jumpa!

Adios, amigos! Bye-bye!

Sabtu, 23 Juli 2016

Kamu




Untuk kamu,
Yang selalu ada dipikiranku

Dari aku,
Yang selalu memikirkanmu

Apa kamu tahu
Betapa lelahnya aku
Yang selalu memikirkanmu
Yang selalu memperhatikanmu
Selalu memandangmu

Kamu mungkin tak akan pernah tahu
Bagaimana lelahnya aku

Tapi kamu tak perlu khawatir
Aku menyukai lelahku ini
Bagaimana tidak?

Aku suka saat memikirkanmu
Mengingat kembali apa saja yang kamu lakukan,
Kepadaku
Mengingat bagaimana kita bisa sampai di sini
Dan ingatan-ingatan lainnya yang muncul
Aku selalu suka

Aku suka saat memperhatikanmu
Memandangmu tertawa saat sedang bersama temanmu
Melihatmu mengerutkan kening saat sedang berpikir
Atau melihatmu melakukan hal lain
Aku tetap suka

Percayalah,
Aku selalu suka kamu
Apapun yang kamu kerjakan
Lakukan
Kenakan
Apapun itu
Aku suka

Ingat ya,
Aku suka kamu.





–Aku, yang suka kamu.

Jumat, 22 Juli 2016

Must-To-Do

Pernah gak sih kalian merasa 'ah kok saya nggak bisa kayak gitu' atau 'pengen berubah tapi susah amat'? Pernah ya pasti? Saya sih sering.

"Mau bahas apaan sih?"

Jadi dalam 7 hari bercerita kali ini kita dapet tema gais. Temanya: Yang Perlu diubah Walau Susah.

Saya mau cerita sekaligus memperingatkan kalian yang punya kebiasaan semacem saya.

Kebiasaan tidur terlalu larut malam. Iya, saya sering sekali tidur lewat jam 12 malam. Apalagi setelah libur panjang kemarin, rasanya kalau belum jam 12 lewat, mata nggak bisa merem. Padahal orang tua sudah mewanti-wanti agar tidur jangan lewat dari jam 12, tapi saya sih ... hehehe ya gitu.

Omong-omong, kalau Anda ingin tahu apa yang saya lakukan selama itu.

"Belajar?" Nope. Belajarnya udah tadi jam 7 dan hanya berlangsung selama 1 jam. Itu pun kalau mood. Yha.

"Ngerjain tugas?" Nu-uh.

"Nge-game?" Almost close.

"YA TRUS APA DONG?" Sans. Saya bertahan selama itu cuman buang-buang listrik. Nyalain laptop, streaming youtube/film, baca wattpad, stalk pacar orang eh enggak, stalk siapapun yang lewat di timeline, dan lain-lain. Pokoknya gak penting.

Padahal kita setidaknya membutuhkan 8 jam untuk tidur. Dan dari jam 12 sampai jam 5 itu hanya dapat 5 jam gais..

"Tidur siang dong?"

Hell-o? Sekolah sudah mulai aktif-aktifnya. Kegiatan ekskul, nugas dan komplotannya masih menunggu. Jadi tidur siang itu hanya imajinasi belaka. Kecuali hari Jum'at juga Minggu, of course.

Dan kalian tahu? Beberapa ahli bahkan menganggap bahwa tidur lebih penting daripada makan, lho. Tanpa makan manusia bisa bertahan selama kurang lebih 40 hari, sedangkan tanpa tidur hanya 11 hari.

Maka dari itu, kalian yang suka tidur larut malam siap-siap harus menghadapi beberapa resiko ini:

  1. Konsentrasi berkurang. Siklus tidur itu memperkuat memori kita anyway, jadi bisa menambah konsentrasi. Ya kalau kurang tidur berarti? Tahu sendiri kan?
  2. Berdampak pada kesehatan. Tidur mempunyai banyak manfaat. Kalau tidur terlalu larut terjadi berkepanjangan bisa-bisa kalian kena penyakit jantung, diabetes, stroke dsb. Beware guys.
  3. Menurunkan gairah seksual. Ngg ... I really don't know what to say.
  4. Menjadi pelupa. Sharp wave ripples itu biasanya terjadi pada malam hari. Jadi, mereka yang kurang tidur akan menjadi mudah lupa.
  5. Penyebab depresi. Mereka yang mengidap insomnia lebih mudah terserang depresi. Beware guys. (2)
  6. Obesitas. Yang ini nih, ibu saya selalu memperingatkan saya tentang hal ini. Mereka yang tidur larut nafsu makannya bertambah, sehingga keinginan untuk menyantap berbagai macam makanan juga lebih besar.
  7. Kesehatan kulit. Hormon kortisol orang yang kurang tidur akan memecah kolagen kulit yang berfungsi sebagai penjaga kehalusan kulit serta keelastisannya.
  8. Meningkatkan resiko kematian. Worse of the worse. Berbagai faktor menjadi alasan mengapa mereka yang kurang tidur lebih beresiko. Juga, dua kali lipat mengalami resiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler.
  9. Cepat tua. Tidur larut menyebabkan kinerja tubuh untuk membuang toxin kurang maksimal sehingga mempercepat penuaan.

Ke-sok-tahuan saya ini berasal dari sumber yang bisa dipercaya kok. Tenang. Kalau mau baca selengkapnya bisa di sini.

So, ayo gais! Mulai sekarang jangan tidur lebih dari jam 12 malam ya. Sayangi tubuh kalian. Kasian kalau harus disiksa 24/7. Semangat!



Adios, amigos! Bye-bye!

Kamis, 21 Juli 2016

KAU–AKU





Kau dan aku bukan lagi anak kecil
Tapi,
Kau dan aku juga bukan orang tua
Kau dan aku hanya remaja yang beranjak dewasa

Kau dan aku punya masalah yang lebih pelik sekarang
Tidak seperti dulu
Masalah kau dan aku hanya pada mainan dan permen

Kau dan aku harus mulai berpikir
Bagaimana kau dan aku di masa depan
Bagaimana dengan pekerjaan
Bagaimana dengan keluarga
Bagaimana dengan teman
Dan bagaimana-bagaimana lainnya

Kau dan aku sering kali berimajinasi
Jika saja kau dan aku membuat kesalahan
Bagaimana kau dan aku nantinya

Tapi,
Ada satu hal yang ingin aku tanyakan

Bagaimana dengan kau dan aku?
Apa kau dan aku ada?



–Aku, yang sering bertanya kau.








p.s: Maafkan tulisan ini, ide udah mentok.

Rabu, 20 Juli 2016

Bayangkan Rasakan

Jangan baper dulu sama judulnya. Ini bukan mau ngebahas lagunya kembaran saya, kok. Calm down guys.


Tapi sebelumnya saya mau tanya.

Pernah membayangkan bagaimana kalian yang sekarang kalau tidak bersekolah?

Coba sekarang bayangkan. Kalian mau jadi apa tanpa pendidikan yang diajarkan di sekolah? Tanpa ilmu yang didapat dari sekolah? Saya tahu. Pasti ada beberapa dari kalian yang menjawab:

"Dapet ilmu nggak cuma dari sekolah kali."

Ya memang. Baca, tulis dan berhitung juga masih bisa diajarkan oleh orang tua. Kalau mau tahu tentang pengetahuan umum, perpustakaan daerah juga menyediakan buku. Internet apalagi.

"Trus kalau gitu, apa ruginya kita nggak sekolah?"

Membaca, menulis dan berhitung bisa diajarkan oleh orang tua, keluarga, atau bahkan orang lain di sekitar kita. Tapi apa mereka punya waktu untuk menuntun Anda sampai pandai? Tidak semua orang langsung pandai melakukan hal-hal tersebut dalam kurun waktu yang singkat. Ada orang yang butuh waktu cukup lama untuk benar-benar lancar membaca, menulis ataupun berhitung. Orang tua Anda belum tentu mempunyai banyak waktu hanya untuk mengajari Anda, pekerjaan mereka tidak bisa menunggu, urusan lain juga pasti banyak.

"Keluarga yang lain?"

Apalagi ini. Mereka tentu punya kehidupan masing-masing. Punya keperluan yang harus diurus. Mengajari Anda hanya akan merepotkan mereka. Ini baru keluarga, bagaimana dengan orang lain? Apa mereka mau? Saya ragu. Mungkin hanya secuil orang yang mau dan sabar mengajari Anda.

Berbeda dengan guru-guru di sekolah. Mereka sudah paham betul bagaimana mengajari murid-muridnya. Mereka punya banyak waktu untuk Anda, muridnya, karena memang itu lah pekerjaannya. Mereka punya urusan selain mengajari Anda, but duty comes first, right? Menjadi seorang guru adalah pilihan mereka. Kewajiban guru ya harus menuntun murid-murid mereka. Mereka tidak bisa menolak kewajiban ini kecuali ada hal yang sangat mendesak, tentunya. Mengajari Anda bagaimana membaca, menulis, dan berhitung menjadi bagian mudah bagi mereka. Ilmu pengetahuan selain hal-hal tersebut juga pasti ada dan akan diajarkan kepada Anda.

Kita mungkin tidak akan paham apa yang orang tulis, atau tidak paham bagaimana cara menulis, ataupun tidak paham caranya mengurutkan angka 1 sampai 9 tanpa bersekolah.

"Kan bisa otodidak."

Ya. Pastinya. Tapi apa semua orang mau repot-repot memakai waktunya untuk hal-hal itu? Apa semua orang rajin belajar? Tidak semua. Saya akui saya sendiri terkadang malas untuk belajar. Ini saya yang sudah bersekolah hampir 13 tahun (dihitung dari TK sampai kelas 11), bagaimana dengan mereka yang tidak bersekolah?

Jadi, bisa mencari perbedaanya?

Perasaan bosan untuk belajar itu pasti ada. Tapi jangan sampai kita berhenti ya. Pendidikan itu perlu. Jangan sia-siakan pahlawan kita yang rela berjuang demi pendidikan untuk kita, terutama kaum wanita. Jangan sia-siakan. Ingat, penyesalan selalu datang terlambat, kalau tidak, bukan penyesalan namanya tapi pendaftaran. Halah.

Ada satu quote yang selalu tertanam di pikiran saya tentang malas belajar. Ea.

"Nek wegah sinau angon wedhus ae kono!" –Ibu

Artinya seperti ini: "Kalau malas belajar nggembala kambing saja sana!"
Ibu mah gitu, sukanya bikin baper. Kan saya jadi pengen nangis. Kalimat keramat itu diucapkan ibu saat saya masih SD. Masih manja, kalau ada tugas banyak mintanya ijin nggak masuk aja. Pura-pura sakit, trus nangis. Drama queen banget ya saya dulu.

Tapi iya juga. Mungkin, kalau saat ini saya tidak bersekolah saya sudah jadi gembala kambingnya kakek. Hm.



Last. Adios, amigos! Bye-bye!


Selasa, 19 Juli 2016

Mutter

Hanya satu potong roti tersisa
Dia menatapmu
Lalu kamu tersenyum
Kamu memberi semua bagian kepadanya tanpa sisa

Udara terasa dingin
Tapi kamu tetap memberikan selimutmu untuknya
Walaupun kamu batuk
Dia bertanya apa kamu baik-baik saja
Tetapi kamu hanya tersenyum dan mengangguk
"Aku baik-baik saja, sayang," katamu

Kalian berlari menerjang hujan
Kamu melepas jaketmu
Kalian tetap berlari
Dengan jaketmu melindunginya

Ini semua membutuhkan banyak waktu
Untuk ku mengerti
Bagaimana seseorang bisa memberi seluruh hidup
Waktu
Jiwa
Darah
Semua miliknya
Kepada seseorang
Tanpa meminta suatu imbalan

Dan aku akhirnya paham
Aku harus menjadi seorang ibu untuk mengerti




from the botom of the heart.
Love, your daughter.




p.s: foto berasal dari we heart it

Senin, 18 Juli 2016

Kata Mereka

"It's funny how time flies so fast."

Funny, bagaimana satu bulan berlalu dengan sangat cepat. Atau hanya imajinasi saya saja? Setelah libur panjang, akhirnya kita diharuskan untuk kembali ke rutinitas.

18 Juli kali ini, siswa-siswi sekolah harus berkutat dengan buku (lagi). Namun berbeda dengan mereka yang baru naik satu tingkat ke sekolah yang lebih tinggi. Mereka harus menghadapi MPLS dulu.

Ini sekilas foto dari suasana MPLS di sekolah saya.
CC: https://www.instagram.com/smansapati


"Apa sih MPLS?"

MPLS adalah singkatan dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Berbeda dengan MOPDB/MOS, MPLS ini lebih 'mudah' bagi siswa baru. Bukan seperti kita yang dulu harus memakai atribut yang nyeleneh, dibentak oleh senior jika melakukan kesalahan, dan hal-hal lainnya. Siswa sekarang hanya perlu co-card sebagai tanda pengenal, dan duduk diam memperhatikan penjelasan para guru. Yep, para guru.

"Bukan senior?"

Bukan. Sama sekali bukan. PERMENDIKBUD No. 18 Tahun 2016 mengubah budaya yang dari dulu sudah hadir di Indonesia. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Orang-orang ramai mengutarakan pendapatnya tentang perubahan ini. Banyak dari mereka memberikan respon positif, namun tidak sedikit pula yang menentang perubahan ini.

Dengan adanya hal ini, saya mewawancarai beberapa teman sekolah tentang hal ini. Berikut rinciannya:

  • “Nggak enak Mel, sama-sama berkesan sih tapi kesannya itu berbeda dengan MOS tahun lalu, kalau tahun ini berkesannya itu kayak bisa menciptakan karya lah kalau tahun kemarin itu gara-gara ada DPT DPT-an gitu. Tapi kalau menurutku kok lebih berkesan tahun kemarin, kan kalau tahun kemarin itu kayak bisa nglatih mental.” –Siswi kelas 11 IPS 1, 15 tahun.
  • “Kalau aku sendiri sih gak setuju Mel, soalnya kan bikin gak mandiri adkel-adkel, terus you know lah orang Indonesia itu kalau misal digituin pasti njaluk rempelo tambah seenaknya dengan siapapun di sekolahan, terus kan semua dipegang guru (untuk beberapa sekolah termasuk kita) nah itu bukannya malah meyulitkan guru? Kan yang di sekolah gak cuma guru tapi ada siswa lainnya, tapi ya ada sisi baiknyalah, gak ada pembodohan pakai atribut” –Siswi kelas sebelah, 16 tahun.
  • Umm.. Tbh, in my opinion as a student, I agree with this MPLS. Kenapa? Karena biarkanlah adik-adik kelas itu mengenal lingkungan in a proper way. Jadi tahu banyak hal, peraturan, kedisiplinan, hingga organisasi dan ekskul. No need to melakukan perploncoan yang diatasnamakan pendidikan karakter. Pembentukan karakter itu perlu waktu yang panjang. Gak mungkin hanya dalam 3 hari. Yang ada adik kelas itu hanya segan sesaat dan malah end up menertawakan para kakak-kakak DPT di belakangnya. Tentara, polisi, dan satuan militer lainnya saja butuh waktu lama itu punya karakter yang disiplin dsb. Kalau misal kakak-kakak DPT memang sebegitu hebatnya untuk mengubah karakter dalam waktu 3 hari, maka alangkah baiknya para tentara dan polisi itu untuk diajar oleh kakak-kakak DPT. :--)But, as a senior, gak setuju lah. HAHAHAHA.” –Siswi kelas 11 IPA 7, 16 tahun.
  • “Menurutku sih bagus, karena seharusnya pendidikan mental dan karakter itu diberikan oleh orang tua di rumah. Ya kan kita sekolahnya di sekolah umum, bukan sekolah militer bro! Jadi ya seperti murid yang dicubit terus dibawa ke meja hijau itu sepenuhnya salah orang tua. Orang tuanya yang terbelakang mental dan pikirannya, gak habis pikir sama orang tua anak tsb. Kasian si anak.” –Siswa kelas sebelah, 11 IPS 2, umurnya berapa ya?
  • “Kalau menurutku ada kekurangannya ada kelebihannya, kalau kekurangannya itu gak melatih mentalnya adik kelas, lah pas jamannya kita kan kakak-kakak kelas yang nge-MOS jadinya itu adek kelas lebih ngajeni kakak kelas soalnya kan ada DPT-DPT-an hehe. Kalau kelebihannya itu ya jadi adek-adek kelas lebih cepet beradaptasi sama lingkungan sekolah, soalnya kan langsung dikenalkan selama 3 hari itu. Gitu Mel hehe. Maaf ambigu.” –Siswi yang sekelas sama saya, 11 IPS 3, 16 tahun.

Itu kata mereka. Ada yang setuju? Atau mungkin sama sekali tidak sependapat? Boleh sekali lho, Anda meninggalkan komen tentang pendapat Anda. Kalau saya sih ada di tengah-tengah antara setuju dan tidak. Hehe.

Ohya ada satu teman saya yang bikin kalimat ini setelah membicarakan adik-adik kelas, hehe.
"Percuma sekolah tinggi kalau lewat tidak permisi
–Aqib Daffa


So, last word. Adios, amigos! Bye-bye!

Senin, 11 Juli 2016

Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui [Day 1]

Selamat datang!


Kali ini saya mau membagi cerita sekaligus sedikit review untuk beberapa tempat wisata. Hehe, gaya sedikit gapapa lah.

Tanggal 27 Juni kemarin, keluarga besar dari pihak Bapak saya berencana mengunjungi saudara di Magelang, adik nenek saya tepatnya. Hampir sepuluh tahun lebih nggak ketemu, kangen kata nenek. Saya sendiri sudah lupa bagaimana rupa saudara saya. Terakhir ke sana mungkin saya baru berumur 5 atau 6 tahun. Jadi ya begitu, lupa-lupa tetep nggak ingat.

Karena waktu itu masih dalam liburan vibes, kita melipir ke Jogja sekalian. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Tujuan awal mau silaturahmi, ujung-ujungnya malah liburan. Tapi ya siapa sih yang mau nolak? Gratis lagi. *insert wink emotion*

Ekspektasi berangkat jam 4, realita berangkat jam 5 lebih. Dasar, manusia.

Yang biasanya ambil jalur di Purwodadi dan Brebes, kali ini kita harus putar arah lebih jauh sedikit. Lewat Semarang. Biar gak kena macet, kata mas.

Sekitar jam 11 kita sampai di Homestay yang ada di salah satu tempat di Jogja, lupa alamatnya saya. Beberapa barang bawaan kita turunin. Dan langsung pergi lagi. Kemana? Ke rumah makan...
Jadi hari itu banyak yang nggak puasa HAHA. Di sini lah kita berhenti.

Banyumili Resto ini penggabungan antara resto, danau buatan, pemancingan, dan semacam waterpark mini. Karena tetep puasa, saya cuma bisa menikmati pemandangan.

Pemandangan apaan emang?

Pemandangan koko-koko pada berenang. Hehehehehhe.

Gadeng, bohong. Sumpah. Yang ada cuman bapak-bapak chinese dengan perut buncit yang maianan air sambil ngejaga anaknya. Emak-emaknya ada, di pinggir kolam, makan.

Tempatnya enak kok, banyak pohon, luas, photoable juga. Sayang, waktu itu hujan, jadi kesempatan berkeliling danau juga pemancingannya hilang. Sayang (lagi), pelayannya agak ... hm gimana ya? Tulalit gitu. Pardon my language, tapi iya, bingung melayani pengunjung gitu deh.

Udah. Udah selesai makan maksudnya.

Kita pergi ke De Mata Trick Eye Museum. Di sini kita harus beli tiga tiket. Ya nggak harus juga sih. Satu tiket untuk satu tempat. Nanti ada tiga tempat. Dua tempat pertama kayaknya sama aja, cuma ya beda itunya. Tempat terakhir beda sendiri. Jadi, tempat terakhir ini spesial untuk patung-patung orang-orang terkenal. Mas pacar juga ada di situ. Siapa? Chris Evan, Chris Hemsworth, David Beckham eh bukan yang ini mertua deng, dan banyak lagi.

Ini tempat buat ngapain sih?

Sebenernya, ini tempat cuman buat eksis di kamera. Foto doang. Ada beberapa foodcourt sih di luar museum. Tapi ya gitu-gitu aja. Tapi tetep seru kok! Serunya bisa ngerjain yang difoto soalnya. Ada satu nih yang gemesin.


Di sana mahal nggak?

Untuk tiga tiket lumayan mahal sih. Tapikan pengunjung nggak harus masuk tiga-tiganya. Kalau mau informasi lebih lengkap, monggo sowan di sini http://www.dematamuseum.com pilih sesuai tempat yang diinginkan. Kalau mau Jogja ya klik 'YOGYAKARTA' jangan 'PALEMBANG'. OK? OK.

Sekitar jam 4 sore kita baru keluar dari museum. Nge-gabut sebentar di depan museum, menghalangi orang-orang lewat. Akhirnya kita pergi sembari memutuskan mau buka puasa dimana.

Untuk tempat buka puasa ini mohon maaf sekali, saya lupa dimana. Jadi nggak bisa kasih review. Padahal mah emang nggak ada yang pengen baca review saya ya?

Pokoknya, kita selesai makan sekitar jam 7. Kembali lah ke homestay. Yeay! Setelah seharian berkeringat-keringat ria, akhirnya bisa tidur gais!

Sekilas tentang homestay ini, daerahnya nggak jauh-jauh banget dari tempat Banyumili tadi. Tempatnya sendiri juga photoable hehe. Jumlah kamarnya 5, kalau nggak salah. Ada 3 kamar mandi di luar kamar, setiap kamar ada kamar mandinya. Mini pool juga tersedia di halaman belakang. Enak deh!

Kamar saya sendiri kedapetan di lantai 2. Kamar mandi di depan pintu masuk. Ada satu tempat tidur, di depannya ada tv. Satu-satunya kamar yang dapet balkon :) Saya sendiri tidurnya di atas. Jadi kamar ini ada satu tempat kecil untuk tidur, harus naik tangga dulu kalau mau ke sana. Tangganya bukan tangga yang lebar, ini tangga model yang biasa di pakai tukang buat naik ke atap. Ngerti kan? Jadi saya punya ruang sendiri. Heheheh.

Sisa-sisa jam saya habiskan untuk mandi dan langsung main hp di atas. Heheheh (lagi). Kebiasaan anak muda.

Segini dulu deh!

Adios, amigos! Bye-bye!

Sabtu, 09 Juli 2016

Rindu? Mari sini!

Sugeng rawuh!


Udah setahun berapa bulan ya? 3 atau 4 mungkin? Saya menghilang dari blog ini hehhe. Dan sekarang, saya balik dong! Yang kangen, sini peluk dulu.

Ada yang heran kenapa saya balik lagi ke sini? Jadi berikut penjelasannya.

Isi blog saya emang sampis. Tanya dong kenapa.

Kenapa emang, Mel?

Jadi, blog ini dulunya hanya bertujuan memenuhi tugas akhir TIK. H-1 saya ngebut bikin ini blog, karena dulu —sekarang masih fyi, suka banget nontonin juga baca-baca tentang apapun yang berhubungan sama masak-memasak, that's why isi blog ini kebanyakan resep-resep DIY, tapi ada yang lain juga deng. Ehe.

Back to the main topic, saya balik ke blog ini lagi karena (ya suka-suka gue lah, blog punya siapa juga) / (udah ngeces liat temen-temen ngeblog)

Yang tau jawabnnya, silahkan hubungi 08574xxxxxxx. Jika benar Anda akan mendapatkan hadiah satu bungkus kit*** rasa greentea (bungkus yang eceran aja tapi).

Dan, yak! Betul sekali! Jawaban yang benar yang kedua. Hehehehhehe.

Iya, saya kepengin nulis blog lagi karena temen-temen banyak yang ngeblog. Kalau kalian berasumsi 'temen-temen' ini berarti yang ada di sekolah atau sekitaran rumah, kalian salah. Saya dapet ilham untuk ngeblog ini berasal dari temen-temen HSC.

Siapa sih mereka?

Akan saya jelaskan di blog-blog mendatang (kalau nggak lupa). Jadi ya gitu, asalnya keinginan untuk ngeblog datang dari mereka. Mungkin nanti isinya lebih sampah dari sebelumnya, maafkan saya ya? *kedip-kedip

Ohya, kalau ada yang bertanya kenapa saya kalau ngomong pakainya 'saya-anda' bukan 'gue-elo', jadi begini penjelasannya. Saya bukan anak berbudaya asli Betawi ataupun anak Jabodetabek dan sekitarnya, saya ini dari Pati. Ada yang tau? Saya sendiri sangsi ada banyak yang tau. Hhe. Jadi Pati itu di sini. Aslinya kalau ngomong malah pakai 'aku-kuwe', tapi kalau pakai 'aku-kamu' kayaknya kok ... ehm kayak orang pacaran kurang nyaman aja. So yeah, itulah sebabnya. Tapiiiii ... ada tapinya nih. Kalau bacanya nyaman/lebih saik pakai 'gue-elo' silahkan tinggalkan komentar.

Okelah. Segini dulu aja ya? Jangan nangis dong. Aku pasti kembali, kalau kata salah satu lirik lagu.


Adios, amigos! Bye-bye!
Diberdayakan oleh Blogger.

About me

You know me. If you don't, you will.

Pages

recent posts